Senin, 17 April 2017

Cerpen "Lirik Berdenyut"

Lirik Berdenyut

Gumpalan debu terasa berebut penuhi pori-poriku. Sedang sang raja siang tengah sibuk jalani tugasnya tebarkan panas di muka alam. Irama asap pinggiran jalan seolah membawa kembali pesan Bu Kusnani sesaat sebelum bel berbunyi.
Anak-anak tiga minggu lagi kita ujian nasional jadi ibu harap semua urusan administrasi secepatnya di selesaikan.
Urusan administrasi? Hah! bilang saja aku harus menyodorkan sejumlah uang kartal. Tak tega rasanya melempar pesan itu jauh ke dalam pendengaran perempuan tuaku.
***
            Ku penjarakan tubuh kurusku dalam ruang berukuran 2x3 meter,
Anak-anak tiga minggu lagi kita ujian nasional  jadi ibu harap semua urusan administrasi secepatnya di selesaikan.
Ah! Kalimat mematikan itu lagi terlintas di otakku buatku tak berminat tuk membentuk lengkung sabit di bibirku. Sesekali ku pejamkan mata mencari-cari kata yang tepat tuk sampaikan pesan sialan itu pada perempuan tuaku.
Sayang bagaimana tadi ulangan fisikamu? dapat nilai berapa?Suara lembutmu mampu singkirkan percikan panas yang mengendap di otakku. Ku sodorkan selembar kertas bertinta hitam.
Wah.., hebat ibu bangga denganmu.Kau tersenyum dan menciumi keningku usai melihat angka yang tertera dalam kertas itu.
Oh.. perempuanku, kau terlihat cantik saat tersenyum dan aku tak ingin membunuh senyum itu biar ku simpan saja pesan mematikan dari guruku siang tadi, karena aku tahu tiga minggu bukanlah waktu yang panjang bagimu untuk melunasi administrasi sekolahku.
Ku putar radio klasikku, berharap temukan kesegaran lewat nada-nada yang keluar dari tubuhnya.
Ega
Ega kau anak pinggiran kota
Semangatmu tak pernah padam meski bajumu telah usang
Ega titik terang kehidupan
Asamu tak putus harapan meski badai terus menerjang
Berlarilah mengejar mimpimu
Demi semangat tuk belajar
Senyum dan bahagia di masa depan
Berlarilah mengejar semua cita-citamu
Hempaskan semua yang ada menghalangimu
Dan jadilah pelangi kecil yang sanggup mewarnai seliruh dunia
Ega
Berlarilah kejar mimpimu, demi semangat tuk belajar
Hatiku bergetar tanpa tara saat mendengar nyanyian sederhana dari Javanese Pits, band lokal dari sudut kota seribu canting ini. Sekarang aku tahu apa yang harus ku lakukan.
***
            “Nak, benar kau mau lembur sampai malam? Bukankah besok kau harus sekolah?” Tanya Pak Dayat, pemilik kedai tempatku biasa bekerja sepulang sekolah.
“Iya Pak, paling tidak sampai tiga minggu kedepan.” Jawabku.

Terima kasih Tuhan atas segenggam asa yang kau denyutkan melalui lirik bernyawa karya anak bangsaku. Dan secuil kisah ini ku persembahkan untuk perempuan tuaku yang sangat ku sayangi hingga tak terdengar lagi denyutan di urat nadiku. Sehat selalu, IBU


Tidak ada komentar:

Posting Komentar