Lentera Pertiwi
Oleh: Ayu Listiyaningrum
“Apa Bu Lilis akan meninggalkan kami?”
Berapa banyak lagi keringat yang harus kucurahkan,
rasanya tak sebanding dengan apa yang aku cerna. Seolah setiap butir yang
menetes tak berarti apa-apa. Tak terukur lagi langkah yang telah kupijak hingga
aku terhenti disini.
***
Kabut di Petungkriyono masih saja enggan beranjak dari
posisinya. Sepoi angin, liak-liuk tetumbuhan, dan sederet irama-irama alam
gunung Ragajambangan ini tetap saja ajeg menjalani titah Tuhan. Indah memang,
tapi rutinitas alam yang selaras itu tak ubahnya seperti cerminan hidupku.
Kupikir, dengan melanjutkan pendidikan ke kota akan mengubahku menjadi orang yang membawa
manfaat bagi orang lain, tapi nyatanya?
Ah! Aku masih saja bergelut dengan lumpur dan kerbau.
Aku tetap saja ajeg menjalani rutinitasku sebagai buruh tani bersama emak dan
bapakku di desa. Padahal, aku sangat bermimpi menjadi pegawai negeri sipil. Ya, menjadi PNS adalah impianku sekaligus selalu
menjadi prioritas utamaku. Bukan seperti sekarang. Ha..ha..! dunia memang tak adil bagiku, mungkin juga bagi sebagian
orang lainnya. Tapi tidak! Aku tidak boleh menyerah dan aku tak suka menyerah
begitu saja. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali dia
sendiri yang mengubahnya?
Dengan mengandalkan ijazah strata satu dan doa restu
emak bapak, aku optimis bakal lolos dalam ujian CPNS kali ini.
“Taraa! Sampai juga akhirya.” Pekik Intan buramkan
sketsa-sketsa kelabu yang menemaniku sepanjang perjalanan.
“Waduh! banyak banget ya pesertanya.” Sadarku menyapukan pandangan kesegala
penjuru ruang ujian.
“Jangan pesimis dong sobat! Tenang, jangan menyerah sebelum
berperang.”
“Oke Intan, aku pun tak suka menyerah.”
“Nah, kalau begitukan enak didengar.” Sedari dulu memang
begitu, ucapan Intan selalu membuatku Oke
lagi, seperti bayu segar yang menyeka keningku.
***
Aku tersenyum di balik caping gunung yang ku kenakan. Terlihat dengan jelas
bocah-bocah
tengah asyik bermain hujan, melompat kesana-kemari. Tak sedikit pun
menghiraukan bahaya dan kesehatan mereka. Kepolosan mereka telah menipu setiap mata yang
memandang karena tidak sedikit yang memandang mereka dengan sebelah mata.
Seolah kehadiran mereka tak berarti di bumi pertiwi ini. Tapi tidak bagiku, aku rasa bisa dan mungkin
saja suatu saat nanti akan ada calon presiden, ilmuan, atau pun dokter yang
terlahir dari tempat ini. Dimana kenyataannya presiden, ilmuan, atau pun dokter tak satu pun yang pernah menyentuh
dusun terpencil seperti ini.
Langit tak jua
menyeka matanya. Sepertinya alam tak mendukung rencanaku untuk berkunjung ke
rumah Intan. Kembali
ingatanku menjajah menuntunku pada keceriaan anak-anak yang asik memainkan hujan.
Otakku seolah terbius merangkul nalar dan mata batinku memaksaku untuk mulai memikirkan masa depan mereka
karena aku merasa yakin ada impian setinggi langit dibenak mereka, ada banyak yang mungkin tidak
dimiiki oleh anak-anak lain.
***
“Tapi aku nggak yakin, Lis.” Jawab Intan atas permohonan yang kuajukan.
“Ayolah Intan, buat apa kita kuliah bahkan sampai nyantri ke kota jika hanya
begini-begini saja yang dapat kita lakukan.”
“Tapi aku masih belum yakin bocah-bocah itu mau ngaji
sama kita, Lis”
“Kenapa ngak yakin?”
“Nggak tahu, ya nggak yakin sajalah pokoknya.”
“Ah! Intan tak baik menyakini sesuatu yang belum kita tahu pasti
alasannya.”
“Yawis yawis sakarepmu wae. Okelah aku akan
mendukung rencanamu itu.” Akhirnya jawaban yang sedari tadi ingin aku dengar,
keluar juga dari lisan sahabat terbaikku itu.
Kini, aku dan Intan sama-sama membimbing anak-anak dusun
untuk belajar baca tulis Al-Qur’an, ilmu agama, dan ilmu-ilmu lain yang pernah
kita pelajari. Tak sulit menarik minat belajar mereka. Seusai sholat ashar mereka sangat antusias untuk
tetap berada di masjid yang kemudian kami sebut sebagai TPQ, tempat dimana kami
belajar. Walau tanpa bayaran, tapi aku bahagia dan aku yakin Intan pun bahagia.
Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang
diajarkan kepada orang lain?
***
Langit membiru, sesekali surya melepas terangnya. Namun,
cerahnya hari ini tak terasa indah bagiku karena aku dihadapkan pada dua
pilihan yang sangat sulit.
“Selamat!” seru Intan penuh misteri.
“Selamat apa?”
Intan hanya tersenyum dan membuka tas merah jambunya
sembari mengeluarkan selembar kertas untukku. Kubaca isinya, perlahan kristal-kristal
cair berjatuhan membelah pipi cembungku. Rasa bahagia bercampur sedih menguap tak karuan. Bagaimana
tidak? Gerbang masa depan telah terbuka. Apa yang aku impikan telah teraih, dan
apa yang menjadi prioritas hidupku tercapai sudah. Ujian CPNSku lulus, aku
diterima! Ku peluk Intan erat-erat. Tanpa sadar anak-anak didikku terenggah
menahan isak mereka. Seolah keceriaan yang selama ini tercipta kabur entah
kemana.
“Apakah Bu Lilis akan meningalkan kami?”
“Ibu…ibu..ibu…!”Isak anak-anak meledak memeluk
melingkari tubuhku yang lemah.
Apa yang harus aku
lakukan? Jawaban apa yang harus ku beri? Aku tak bisa menatap raut sedih seperti ini. Aku
tak ingin memupuskan harapan mereka. Mugkinkah aku lebih dibutuhkan disini? Bagiku, inilah
pengabdianku pada bangsa. Tak perlu tanda jasa, tak perlu pujian atau pun lencana.
“Ilmuku milik kalian dan kalian berhak memiliki apa yang
aku miliki. Kalian adalah harapan ibu.” Lirihku gundah.
“Apakah Bu Lilis akan meninggalkan kami?”
Kisah ini ku dedikasikan untuk mereka-mereka yang berjuang tanpa
pamrih.
Mengabdi pada yang mereka yakini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar