Senin, 17 April 2017

Cerpen "Lentera Pertiwi"

Lentera Pertiwi

Oleh: Ayu Listiyaningrum
“Apa Bu Lilis akan meninggalkan kami?”
Berapa banyak lagi keringat yang harus kucurahkan, rasanya tak sebanding dengan apa yang aku cerna. Seolah setiap butir yang menetes tak berarti apa-apa. Tak terukur lagi langkah yang telah kupijak hingga aku terhenti disini.
***
Kabut di Petungkriyono masih saja enggan beranjak dari posisinya. Sepoi angin, liak-liuk tetumbuhan, dan sederet irama-irama alam gunung Ragajambangan ini tetap saja ajeg menjalani titah Tuhan. Indah memang, tapi rutinitas alam yang selaras itu tak ubahnya seperti cerminan hidupku. Kupikir, dengan melanjutkan pendidikan ke kota akan mengubahku menjadi orang yang membawa manfaat bagi orang lain, tapi nyatanya?
Ah! Aku masih saja bergelut dengan lumpur dan kerbau. Aku tetap saja ajeg menjalani rutinitasku sebagai buruh tani bersama emak dan bapakku di desa. Padahal, aku sangat bermimpi menjadi pegawai negeri sipil. Ya, menjadi PNS adalah impianku sekaligus selalu menjadi prioritas utamaku. Bukan seperti sekarang. Ha..ha..! dunia memang tak adil bagiku, mungkin juga bagi sebagian orang lainnya. Tapi tidak! Aku tidak boleh menyerah dan aku tak suka menyerah begitu saja. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali dia sendiri yang mengubahnya?
Dengan mengandalkan ijazah strata satu dan doa restu emak bapak, aku optimis bakal lolos dalam ujian CPNS kali ini.
“Taraa! Sampai juga akhirya.” Pekik Intan buramkan sketsa-sketsa kelabu yang menemaniku sepanjang perjalanan.
“Waduh! banyak banget ya pesertanya.” Sadarku menyapukan pandangan kesegala penjuru ruang ujian.
“Jangan pesimis dong sobat! Tenang, jangan menyerah sebelum berperang.”
“Oke Intan, aku pun tak suka menyerah.”
“Nah, kalau begitukan enak didengar.” Sedari dulu memang begitu, ucapan Intan selalu membuatku Oke lagi, seperti bayu segar yang menyeka keningku.
***
Aku tersenyum di balik caping gunung yang ku kenakan. Terlihat dengan jelas bocah-bocah tengah asyik bermain hujan, melompat kesana-kemari. Tak sedikit pun menghiraukan bahaya dan kesehatan mereka. Kepolosan mereka telah menipu setiap mata yang memandang karena tidak sedikit yang memandang mereka dengan sebelah mata. Seolah kehadiran mereka tak berarti di bumi pertiwi ini. Tapi tidak bagiku, aku rasa bisa dan mungkin saja suatu saat nanti akan ada calon presiden, ilmuan, atau pun dokter yang terlahir dari tempat ini. Dimana kenyataannya presiden, ilmuan, atau pun dokter tak satu pun yang pernah menyentuh dusun terpencil seperti ini.
            Langit tak jua menyeka matanya. Sepertinya alam tak mendukung rencanaku untuk berkunjung ke rumah Intan. Kembali ingatanku menjajah menuntunku pada keceriaan anak-anak yang asik memainkan hujan. Otakku seolah terbius merangkul nalar dan mata batinku memaksaku untuk mulai memikirkan masa depan mereka karena aku merasa yakin ada impian setinggi langit dibenak mereka, ada banyak yang mungkin tidak dimiiki oleh anak-anak lain.
***
“Tapi aku nggak yakin, Lis.” Jawab Intan atas permohonan yang kuajukan.
“Ayolah Intan, buat apa kita kuliah bahkan sampai nyantri ke kota jika hanya begini-begini saja yang dapat kita lakukan.”
“Tapi aku masih belum yakin bocah-bocah itu mau ngaji sama kita, Lis
“Kenapa ngak yakin?”
“Nggak tahu, ya nggak yakin sajalah pokoknya.”
“Ah! Intan tak baik menyakini sesuatu yang belum kita tahu pasti alasannya.”
Yawis yawis sakarepmu wae. Okelah aku akan mendukung rencanamu itu.” Akhirnya jawaban yang sedari tadi ingin aku dengar, keluar juga dari lisan sahabat terbaikku itu.
Kini, aku dan Intan sama-sama membimbing anak-anak dusun untuk belajar baca tulis Al-Qur’an, ilmu agama, dan ilmu-ilmu lain yang pernah kita pelajari. Tak sulit menarik minat belajar mereka. Seusai sholat ashar mereka sangat antusias untuk tetap berada di masjid yang kemudian kami sebut sebagai TPQ, tempat dimana kami belajar. Walau tanpa bayaran, tapi aku bahagia dan aku yakin Intan pun bahagia. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan kepada orang lain?
***
Langit membiru, sesekali surya melepas terangnya. Namun, cerahnya hari ini tak terasa indah bagiku karena aku dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit.
“Selamat!” seru Intan penuh misteri.
“Selamat apa?”
Intan hanya tersenyum dan membuka tas merah jambunya sembari mengeluarkan selembar kertas untukku. Kubaca isinya, perlahan kristal-kristal cair berjatuhan membelah pipi cembungku. Rasa bahagia bercampur sedih menguap tak karuan. Bagaimana tidak? Gerbang masa depan telah terbuka. Apa yang aku impikan telah teraih, dan apa yang menjadi prioritas hidupku tercapai sudah. Ujian CPNSku lulus, aku diterima! Ku peluk Intan erat-erat. Tanpa sadar anak-anak didikku terenggah menahan isak mereka. Seolah keceriaan yang selama ini tercipta kabur entah kemana.
“Apakah Bu Lilis akan meningalkan kami?”
“Ibu…ibu..ibu…!”Isak anak-anak meledak memeluk melingkari tubuhku yang lemah.
            Apa yang harus aku lakukan? Jawaban apa yang harus ku beri? Aku tak bisa menatap raut sedih seperti ini. Aku tak ingin memupuskan harapan mereka. Mugkinkah aku lebih dibutuhkan disini? Bagiku, inilah pengabdianku pada bangsa. Tak perlu tanda jasa, tak perlu pujian atau pun lencana.
“Ilmuku milik kalian dan kalian berhak memiliki apa yang aku miliki. Kalian adalah harapan ibu.” Lirihku gundah.
“Apakah Bu Lilis akan meninggalkan kami?”

Kisah ini ku dedikasikan untuk mereka-mereka yang berjuang tanpa pamrih.
Mengabdi pada yang mereka yakini






Tidak ada komentar:

Posting Komentar