Gadis Manis Tak BerTuhan
Oleh: Ayu Listiyaningrum
Malam kian larut, nampak
seorang pemuda memainkan jemarinya membersihkan setumpuk piring kotor sisa
keramaian tadi siang.
“Permisi mas, sudah mau tutup ya?”
tanya seorang gadis bermata sipit.
“Oh.., iya mbak sebentar lagi
tutup.”
“Kalau boleh, saya mau numpang
berteduh disini . di luar hujan deras.”
“Oke mbak, silakan!”
Perlahan lintasan
cahaya buramkan mimpi, hapuskan maya, dan hadirkan nyata. Dengan semangat pagi pemuda itu berjalan melintasi aspal basah akibat ulah hujan semalam. Sepanjang
jalan ia lantunkan secuil ayat dari Sang Pencipta yang berbunyi: Subhanakalaa
ilmalanaa illaamaa alamtana innaka anta alimul khakim!
Benda bundar dipergelangan tangan
menunjuk pukul 7.15 WIB. Ia tersenyum melihat bangunan megah dihadapannya.
Bagunan yang kata orang sebagai Sarang Kaum Intelek. Entahlah mengapa
mereka menyebutnya demikian, namun ia tak begitu menanggapi persepsi mereka.
Baginya bangunan itu adalah salah satu tempat Tuhan mengajarkan ilmu kepada
makhluk-Nya. Saat pikirannya mengembara tiba-tiba…..
Bruuuuuk! Seorang gadis menabrak dari belakang.
“Aduh! Maaf mas.”
“iya, tidak apa-apa mbak.”
“Loh! Mas yang semalam di warung
makan mbok Surti itu kan?”
“Embak yang semalam berteduh itu ya?
“Iya, wah…., nggak nyangka bisa ketemu
lagi. Btw kenalin nama saya Alena
Ying.”
“Saya, Rasendria Alqurni.
“Mas kuliah disini juga ya ?”
“Yupsss, saya kuliah disini
sekaligus kuliah di warungnya mbok Surti.”
“Hehe…, ah mas bisa aja.”
Keduanya terlibat diaolog-dialog ringan
sepanjang koridor kampus.
****
Siang itu Asen ingin menemui mbok
Surti untuk izin tidak masuk kerja. Terdengar sayup lembut memanggil dari belakang.
“Kak Asen...., tunggu!”
“Hai...., Kak Asen cepet amat
jalannya.” Lanjut suara itu tepat dibelakang Asen.
“Owah, ternyata kau Len! Iya nih aku
lagi buru-buru mau ijin bolos kerja.”
“Emang ada acara apa sih pake bolos
segala?”
“Ada seminar penting yang ingin aku
ikuti.”
“Seminar apa, kelihatannya semangat
banget.”
“Seminar keTuhanan.”
“What! keTuhanan? Kakak
percaya sama Tuhan?” Pernyataannya
kali ini membuat jantung Asen bergetar bukan main.
“Lah, kenapa kalau temanya
keTuhanan, bukankah itu menarik? Tentu saja aku sangat percaya sama Tuhan. Kamu
juga kan?” Asen balik bertanya setengah tak percaya dengan pertanyaan Alena
barusan.
“Tragedi 13 Mei 1998 lah kak yang
membuat aku tak percaya lagi dengan cinta Tuhan.”
“Why?”
“Katanya Tuhan itu menyayangi umat-Nya, tapi
mana buktinya ketika perusuh-perusuh itu menghancurkan, menjarah, bahkan
membakar toko kami. Sehingga mama
dan papaku yang ada didalamnya pun tak sempat menyelamatkan diri. Dan kakak
tahu apa yang mereka lakukan pada kakak perempuan ku?” Sejenak gadis itu diam
membersihkan titik-titik basah di parasnya nan elok.
“Saat ini dia mengurus seorang anak yang
dia tak bisa menebak satu wajah diantara perusuh-perusuh bejat itu yang menjadi ayah dari anaknya.
Pada hari itu aku merasa kehilangan cinta Tuhan dan hari itu pula aku berhenti
mencintai Tuhan!”
Ingin rasanya Asen mendekap gadis itu seraya
berbisik, sebenarnya ketika kamu terpuruk kamu tak pernah sendiri, karena
Tuhan selalu ada menghiburmu. Dia
masih menyediakan bintang di malam hari dan kicauan burung di pagi hari untukmu. Tapi ia sadar Alena bukanlah perempuan yang berhak ia peluk.
“Alen, justru itulah bukti kecintaan
Tuhan padamu. Mungkin kamu hanya trauma dengan peristiwa 14 tahun silam.
Kekasih Tuhan pernah bersabda: Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan
besarnya cobaan dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum,
diujinya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barang siapa yang ridha maka baginya
keridhaan dari Allah, sedang barang siapa yang marah maka baginya kemarahan
dari Allah.”
“…..” Gadis China itu terdiam.
****
Diatas, bulan
tersenyum menunjukkan bentuk sabitnya, bintang-bintang menari menunjukkan
kerlipnya. Dan dibawah, seorang pemuda meluncur dengan cepat menunjukkan
kepanikannya.
“Wah.., kalau begini mending aku
putar arah aja ke gang kecil di ujung jalan.”
“Ah! Tapi akan memakam waktu,
bukankah apotek terletak sekitar 100m lagi dari sini?”
“Tapi disana banyak polisi berjajar
dan aku nggak punya SIM. Bisa jadi obat untuk ibu tak kebeli karena aku belum
bisa mematuhi aturan negara. Hehe.” Hati dan logika berdebat menuntut satu keputusan. Ia pun memutar
arah menuju gang kecil yang gulita. Dari sorot lampu motor bebeknya ia
melihat seorang perempuan tergeletak.
“Astaghfirullahaladzim!” teriaknya saat mendapati tubuh perempuan itu dan segera
melarikannya ke rumah sakit terdekat.
Di balik jendela
ia memperhatikan kerja dokter. Entah ada berapa selang-selang kecil yang mereka
tancapkan di tubuh perempuan malang itu.
“Hallo! Assalamualaikum…, Ibu
maaf aku nggak bisa pulang sekarang karena ada sedikit masalah di jalan.”
“masalah apa Nak? Tapi kamu nggak apa-apa kan?”
“Iya Bu aku nggak apa-apa. Ibu
baik-baik ya di rumah. Nanti aku ceritakan.” Pemuda itu mencoba menenangkan
hati ibunya melalui ponsel yang sedari tadi ia simpan di balik saku.
Tak lama kemudian dokter keluar
dan berkata,
”Ia harus segera di operasi kalau
tidak bekas tusukan benda tajam di perutnya bisa berbahaya, apakah anda
keluarganya?”
“Bukan, saya temannya Dok.”
“Kalau begitu anda harus menghubungi
keluarganya malam ini juga untuk menanda tangani ini.” Perintah dokter itu
dengan menyodorkan selembar kertas persetujuan.
****
Sudah 2 minggu perempuan itu
tergeletak di ruang penuh warna putih.
“Nak, kalau kamu capek biar saya
saja yang menjaganya.”
“Oh, tidak apa-apa Cik kebetulan
hari ini saya libur.”
“Saya sangat berterima kasih, kamu
telah menyelamatkan nyawa adik saya.”
“Ah! Bukan saya Cik yang menyelamatkan
tapi Tuhan.”
Beberapa menit
kemudian mereka terperanjat menyaksikan jemari perempuan itu bergerak serta
mata yang sudah lama tertutup perlahan terbuka. Salah seorang berhambur keluar
menemui dokter .
“Kak Asen, kau kah itu?” bisiknya
nyaris tak terdengar.
“Iya, syukurlah kamu sudah sadar.
Kakakmu juga ada disini sedang menemui dokter.”
“Kak, maukah kau membantuku
mengambil kembali cinta Tuhan yang telah ku abaikan?”
Subhanallah!
Dalam hati Asen memuji nama Tuhannya atas apa yang baru saja ia dengar.
“Ya, tentu saja Alen..., aku akan
berusaha membantumu.”
“Terima kasih kak.”
![]() |
| Add caption |
Sedetik kemudian
Alen menangis dan mulai mengisahkan kejadian 2 minggu yang lalu. “Aku tak tahu
apa yang harus aku lakukan ketika dua orang perampok merampas tas, ponsel, dan
semua barang yang aku bawa. Saat aku berteriak mereka memukuli aku dan berkata,
tak mungkin ada yang menolong kamu di jalan yang sepi ini, hah! Entah
mengapa spontan mulutku menjawab, Tuhan pasti menolongku! Seorang diantara
mereka menusukkan sesuatu ke perutku. Setelah itu aku tak dapat melihat apapun
hingga hari ini aku sadar Tuhan telah menolongku melalui kakak.”
“Subhanallah…, sungguh
hidayah itu datangnya hanya dari Allah. Dia berfirman, Sesungguhnya
engkau(Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah(petunjuk) kepada orang yang
kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” Desah Asen
dalam hati.
(Cinta Tuhan itu selalu ada, meski terselip diantara duka kita)
Pekalongan, 14 Mei 2012

Tidak ada komentar:
Posting Komentar