Selasa, 09 Mei 2017

Cerpen "Gadis Manis Tak BerTuhan"

Gadis Manis Tak BerTuhan

Oleh: Ayu Listiyaningrum

Malam kian larut, nampak seorang pemuda memainkan jemarinya membersihkan setumpuk piring kotor sisa keramaian tadi siang.
“Permisi mas, sudah mau tutup ya?” tanya seorang gadis bermata sipit.
“Oh.., iya mbak sebentar lagi tutup.”
“Kalau boleh, saya mau numpang berteduh disini . di luar hujan deras.”
Oke mbak, silakan!”
            Perlahan lintasan cahaya buramkan mimpi, hapuskan maya, dan hadirkan nyata. Dengan semangat  pagi pemuda itu berjalan melintasi aspal  basah akibat ulah hujan semalam. Sepanjang jalan ia lantunkan secuil ayat dari Sang Pencipta yang berbunyi: Subhanakalaa ilmalanaa illaamaa alamtana innaka anta alimul khakim!
Benda bundar dipergelangan tangan menunjuk pukul 7.15 WIB. Ia tersenyum melihat bangunan megah dihadapannya. Bagunan yang kata orang sebagai Sarang Kaum Intelek. Entahlah mengapa mereka menyebutnya demikian, namun ia tak begitu menanggapi persepsi mereka. Baginya bangunan itu adalah salah satu tempat Tuhan mengajarkan ilmu kepada makhluk-Nya. Saat pikirannya mengembara tiba-tiba…..
Bruuuuuk!  Seorang gadis menabrak dari belakang.
“Aduh! Maaf mas.”
“iya, tidak apa-apa mbak.”
“Loh! Mas yang semalam di warung makan mbok Surti itu kan?”
“Embak yang semalam berteduh itu ya?
“Iya, wah…., nggak nyangka bisa ketemu lagi. Btw  kenalin nama saya Alena Ying.”
“Saya, Rasendria Alqurni.
“Mas kuliah disini juga ya ?”
“Yupsss, saya kuliah disini sekaligus kuliah di warungnya mbok Surti.”
“Hehe…, ah mas bisa aja.”
 Keduanya terlibat diaolog-dialog ringan sepanjang koridor kampus.
****
Siang itu Asen ingin menemui mbok Surti untuk izin tidak masuk kerja. Terdengar sayup lembut memanggil dari  belakang.
“Kak Asen....,  tunggu!”
“Hai...., Kak Asen cepet amat jalannya.” Lanjut suara itu tepat dibelakang Asen.
“Owah, ternyata kau Len! Iya nih aku lagi buru-buru mau ijin bolos kerja.”
“Emang ada acara apa sih pake bolos segala?”
“Ada seminar penting yang ingin aku ikuti.”
“Seminar apa, kelihatannya semangat banget.”
“Seminar keTuhanan.”
What! keTuhanan? Kakak percaya sama Tuhan?” Pernyataannya kali ini membuat jantung Asen bergetar bukan main.
“Lah, kenapa kalau temanya keTuhanan, bukankah itu menarik? Tentu saja aku sangat percaya sama Tuhan. Kamu juga kan?” Asen balik bertanya setengah tak percaya dengan pertanyaan Alena barusan.
“Tragedi 13 Mei 1998 lah kak yang membuat aku tak percaya lagi dengan cinta Tuhan.”
Why?”
“Katanya Tuhan itu menyayangi umat-Nya, tapi mana buktinya ketika perusuh-perusuh itu menghancurkan, menjarah, bahkan membakar toko kami. Sehingga mama dan papaku yang ada didalamnya pun tak sempat menyelamatkan diri. Dan kakak tahu apa yang mereka lakukan pada kakak perempuan ku?” Sejenak gadis itu diam membersihkan titik-titik basah di parasnya nan elok.
“Saat ini dia mengurus seorang anak yang dia tak bisa menebak satu wajah diantara perusuh-perusuh  bejat itu yang menjadi ayah dari anaknya. Pada hari itu aku merasa kehilangan cinta Tuhan dan hari itu pula aku berhenti mencintai Tuhan!”
Ingin rasanya Asen mendekap gadis itu seraya berbisik, sebenarnya ketika kamu terpuruk kamu tak pernah sendiri, karena Tuhan selalu ada menghiburmu. Dia masih menyediakan bintang di malam hari dan kicauan burung di pagi hari untukmu. Tapi ia sadar Alena bukanlah perempuan yang berhak ia peluk.
“Alen, justru itulah bukti kecintaan Tuhan padamu. Mungkin kamu hanya trauma dengan peristiwa 14 tahun silam. Kekasih Tuhan pernah bersabda: Sungguh, besarnya pahala setimpal dengan besarnya cobaan dan sungguh, Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum, diujinya mereka dengan cobaan. Untuk itu, barang siapa yang ridha maka baginya keridhaan dari Allah, sedang barang siapa yang marah maka baginya kemarahan dari Allah.”
“…..” Gadis China itu terdiam.
****
            Diatas, bulan tersenyum menunjukkan bentuk sabitnya, bintang-bintang menari menunjukkan kerlipnya. Dan dibawah, seorang pemuda meluncur dengan cepat menunjukkan kepanikannya.
“Wah.., kalau begini mending aku putar arah aja ke gang kecil di ujung jalan.”
“Ah! Tapi akan memakam waktu, bukankah apotek terletak sekitar 100m lagi dari sini?”
“Tapi disana banyak polisi berjajar dan aku nggak punya SIM. Bisa jadi obat untuk ibu tak kebeli karena aku belum bisa mematuhi aturan negara. Hehe.” Hati dan logika berdebat menuntut satu keputusan. Ia pun memutar arah menuju gang kecil yang gulita. Dari sorot lampu motor bebeknya ia melihat seorang perempuan tergeletak.
“Astaghfirullahaladzim!” teriaknya saat mendapati tubuh perempuan itu dan segera melarikannya ke rumah sakit terdekat.
            Di balik jendela ia memperhatikan kerja dokter. Entah ada berapa selang-selang kecil yang mereka tancapkan di tubuh perempuan malang itu.
“Hallo! Assalamualaikum…, Ibu maaf aku nggak bisa pulang sekarang karena ada sedikit masalah di jalan.”
“masalah apa Nak?  Tapi kamu nggak apa-apa kan?”
“Iya Bu aku nggak apa-apa. Ibu baik-baik ya di rumah. Nanti aku ceritakan.” Pemuda itu mencoba menenangkan hati ibunya melalui ponsel yang sedari tadi ia simpan di balik saku.
Tak lama kemudian dokter keluar  dan berkata,
”Ia harus segera di operasi kalau tidak bekas tusukan benda tajam di perutnya bisa berbahaya, apakah anda keluarganya?”
“Bukan, saya temannya Dok.”
“Kalau begitu anda harus menghubungi keluarganya malam ini juga untuk menanda tangani ini.” Perintah dokter itu dengan menyodorkan selembar kertas persetujuan.
****
Sudah 2 minggu perempuan itu tergeletak di ruang penuh warna putih.
“Nak, kalau kamu capek biar saya saja yang menjaganya.”
“Oh, tidak apa-apa Cik kebetulan hari ini saya libur.”
“Saya sangat berterima kasih, kamu telah menyelamatkan nyawa adik saya.”
“Ah! Bukan saya Cik yang menyelamatkan tapi Tuhan.”
            Beberapa menit kemudian mereka terperanjat menyaksikan jemari perempuan itu bergerak serta mata yang sudah lama tertutup perlahan terbuka. Salah seorang berhambur keluar menemui dokter .
“Kak Asen, kau kah itu?” bisiknya nyaris tak terdengar.
“Iya, syukurlah kamu sudah sadar. Kakakmu juga ada disini sedang menemui dokter.”
“Kak, maukah kau membantuku mengambil kembali cinta Tuhan yang telah ku abaikan?”
Subhanallah! Dalam hati Asen memuji nama Tuhannya atas apa yang baru saja ia dengar.
“Ya, tentu saja Alen..., aku akan berusaha membantumu.”
“Terima kasih kak.”
Add caption
            Sedetik kemudian Alen menangis dan mulai mengisahkan kejadian 2 minggu yang lalu. “Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan ketika dua orang perampok merampas tas, ponsel, dan semua barang yang aku bawa. Saat aku berteriak mereka memukuli aku dan berkata, tak mungkin ada yang menolong kamu di jalan yang sepi ini, hah! Entah mengapa spontan mulutku menjawab, Tuhan pasti menolongku! Seorang diantara mereka menusukkan sesuatu ke perutku. Setelah itu aku tak dapat melihat apapun hingga hari ini aku sadar Tuhan telah menolongku melalui kakak.”
Subhanallah…, sungguh hidayah itu datangnya hanya dari Allah. Dia berfirman, Sesungguhnya engkau(Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah(petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” Desah Asen dalam hati.

(Cinta Tuhan itu selalu ada, meski terselip diantara duka kita)

Pekalongan, 14 Mei 2012

Senin, 17 April 2017

Cerpen "Lirik Berdenyut"

Lirik Berdenyut

Gumpalan debu terasa berebut penuhi pori-poriku. Sedang sang raja siang tengah sibuk jalani tugasnya tebarkan panas di muka alam. Irama asap pinggiran jalan seolah membawa kembali pesan Bu Kusnani sesaat sebelum bel berbunyi.
Anak-anak tiga minggu lagi kita ujian nasional jadi ibu harap semua urusan administrasi secepatnya di selesaikan.
Urusan administrasi? Hah! bilang saja aku harus menyodorkan sejumlah uang kartal. Tak tega rasanya melempar pesan itu jauh ke dalam pendengaran perempuan tuaku.
***
            Ku penjarakan tubuh kurusku dalam ruang berukuran 2x3 meter,
Anak-anak tiga minggu lagi kita ujian nasional  jadi ibu harap semua urusan administrasi secepatnya di selesaikan.
Ah! Kalimat mematikan itu lagi terlintas di otakku buatku tak berminat tuk membentuk lengkung sabit di bibirku. Sesekali ku pejamkan mata mencari-cari kata yang tepat tuk sampaikan pesan sialan itu pada perempuan tuaku.
Sayang bagaimana tadi ulangan fisikamu? dapat nilai berapa?Suara lembutmu mampu singkirkan percikan panas yang mengendap di otakku. Ku sodorkan selembar kertas bertinta hitam.
Wah.., hebat ibu bangga denganmu.Kau tersenyum dan menciumi keningku usai melihat angka yang tertera dalam kertas itu.
Oh.. perempuanku, kau terlihat cantik saat tersenyum dan aku tak ingin membunuh senyum itu biar ku simpan saja pesan mematikan dari guruku siang tadi, karena aku tahu tiga minggu bukanlah waktu yang panjang bagimu untuk melunasi administrasi sekolahku.
Ku putar radio klasikku, berharap temukan kesegaran lewat nada-nada yang keluar dari tubuhnya.
Ega
Ega kau anak pinggiran kota
Semangatmu tak pernah padam meski bajumu telah usang
Ega titik terang kehidupan
Asamu tak putus harapan meski badai terus menerjang
Berlarilah mengejar mimpimu
Demi semangat tuk belajar
Senyum dan bahagia di masa depan
Berlarilah mengejar semua cita-citamu
Hempaskan semua yang ada menghalangimu
Dan jadilah pelangi kecil yang sanggup mewarnai seliruh dunia
Ega
Berlarilah kejar mimpimu, demi semangat tuk belajar
Hatiku bergetar tanpa tara saat mendengar nyanyian sederhana dari Javanese Pits, band lokal dari sudut kota seribu canting ini. Sekarang aku tahu apa yang harus ku lakukan.
***
            “Nak, benar kau mau lembur sampai malam? Bukankah besok kau harus sekolah?” Tanya Pak Dayat, pemilik kedai tempatku biasa bekerja sepulang sekolah.
“Iya Pak, paling tidak sampai tiga minggu kedepan.” Jawabku.

Terima kasih Tuhan atas segenggam asa yang kau denyutkan melalui lirik bernyawa karya anak bangsaku. Dan secuil kisah ini ku persembahkan untuk perempuan tuaku yang sangat ku sayangi hingga tak terdengar lagi denyutan di urat nadiku. Sehat selalu, IBU


Cerpen "Lentera Pertiwi"

Lentera Pertiwi

Oleh: Ayu Listiyaningrum
“Apa Bu Lilis akan meninggalkan kami?”
Berapa banyak lagi keringat yang harus kucurahkan, rasanya tak sebanding dengan apa yang aku cerna. Seolah setiap butir yang menetes tak berarti apa-apa. Tak terukur lagi langkah yang telah kupijak hingga aku terhenti disini.
***
Kabut di Petungkriyono masih saja enggan beranjak dari posisinya. Sepoi angin, liak-liuk tetumbuhan, dan sederet irama-irama alam gunung Ragajambangan ini tetap saja ajeg menjalani titah Tuhan. Indah memang, tapi rutinitas alam yang selaras itu tak ubahnya seperti cerminan hidupku. Kupikir, dengan melanjutkan pendidikan ke kota akan mengubahku menjadi orang yang membawa manfaat bagi orang lain, tapi nyatanya?
Ah! Aku masih saja bergelut dengan lumpur dan kerbau. Aku tetap saja ajeg menjalani rutinitasku sebagai buruh tani bersama emak dan bapakku di desa. Padahal, aku sangat bermimpi menjadi pegawai negeri sipil. Ya, menjadi PNS adalah impianku sekaligus selalu menjadi prioritas utamaku. Bukan seperti sekarang. Ha..ha..! dunia memang tak adil bagiku, mungkin juga bagi sebagian orang lainnya. Tapi tidak! Aku tidak boleh menyerah dan aku tak suka menyerah begitu saja. Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali dia sendiri yang mengubahnya?
Dengan mengandalkan ijazah strata satu dan doa restu emak bapak, aku optimis bakal lolos dalam ujian CPNS kali ini.
“Taraa! Sampai juga akhirya.” Pekik Intan buramkan sketsa-sketsa kelabu yang menemaniku sepanjang perjalanan.
“Waduh! banyak banget ya pesertanya.” Sadarku menyapukan pandangan kesegala penjuru ruang ujian.
“Jangan pesimis dong sobat! Tenang, jangan menyerah sebelum berperang.”
“Oke Intan, aku pun tak suka menyerah.”
“Nah, kalau begitukan enak didengar.” Sedari dulu memang begitu, ucapan Intan selalu membuatku Oke lagi, seperti bayu segar yang menyeka keningku.
***
Aku tersenyum di balik caping gunung yang ku kenakan. Terlihat dengan jelas bocah-bocah tengah asyik bermain hujan, melompat kesana-kemari. Tak sedikit pun menghiraukan bahaya dan kesehatan mereka. Kepolosan mereka telah menipu setiap mata yang memandang karena tidak sedikit yang memandang mereka dengan sebelah mata. Seolah kehadiran mereka tak berarti di bumi pertiwi ini. Tapi tidak bagiku, aku rasa bisa dan mungkin saja suatu saat nanti akan ada calon presiden, ilmuan, atau pun dokter yang terlahir dari tempat ini. Dimana kenyataannya presiden, ilmuan, atau pun dokter tak satu pun yang pernah menyentuh dusun terpencil seperti ini.
            Langit tak jua menyeka matanya. Sepertinya alam tak mendukung rencanaku untuk berkunjung ke rumah Intan. Kembali ingatanku menjajah menuntunku pada keceriaan anak-anak yang asik memainkan hujan. Otakku seolah terbius merangkul nalar dan mata batinku memaksaku untuk mulai memikirkan masa depan mereka karena aku merasa yakin ada impian setinggi langit dibenak mereka, ada banyak yang mungkin tidak dimiiki oleh anak-anak lain.
***
“Tapi aku nggak yakin, Lis.” Jawab Intan atas permohonan yang kuajukan.
“Ayolah Intan, buat apa kita kuliah bahkan sampai nyantri ke kota jika hanya begini-begini saja yang dapat kita lakukan.”
“Tapi aku masih belum yakin bocah-bocah itu mau ngaji sama kita, Lis
“Kenapa ngak yakin?”
“Nggak tahu, ya nggak yakin sajalah pokoknya.”
“Ah! Intan tak baik menyakini sesuatu yang belum kita tahu pasti alasannya.”
Yawis yawis sakarepmu wae. Okelah aku akan mendukung rencanamu itu.” Akhirnya jawaban yang sedari tadi ingin aku dengar, keluar juga dari lisan sahabat terbaikku itu.
Kini, aku dan Intan sama-sama membimbing anak-anak dusun untuk belajar baca tulis Al-Qur’an, ilmu agama, dan ilmu-ilmu lain yang pernah kita pelajari. Tak sulit menarik minat belajar mereka. Seusai sholat ashar mereka sangat antusias untuk tetap berada di masjid yang kemudian kami sebut sebagai TPQ, tempat dimana kami belajar. Walau tanpa bayaran, tapi aku bahagia dan aku yakin Intan pun bahagia. Bukankah ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diajarkan kepada orang lain?
***
Langit membiru, sesekali surya melepas terangnya. Namun, cerahnya hari ini tak terasa indah bagiku karena aku dihadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit.
“Selamat!” seru Intan penuh misteri.
“Selamat apa?”
Intan hanya tersenyum dan membuka tas merah jambunya sembari mengeluarkan selembar kertas untukku. Kubaca isinya, perlahan kristal-kristal cair berjatuhan membelah pipi cembungku. Rasa bahagia bercampur sedih menguap tak karuan. Bagaimana tidak? Gerbang masa depan telah terbuka. Apa yang aku impikan telah teraih, dan apa yang menjadi prioritas hidupku tercapai sudah. Ujian CPNSku lulus, aku diterima! Ku peluk Intan erat-erat. Tanpa sadar anak-anak didikku terenggah menahan isak mereka. Seolah keceriaan yang selama ini tercipta kabur entah kemana.
“Apakah Bu Lilis akan meningalkan kami?”
“Ibu…ibu..ibu…!”Isak anak-anak meledak memeluk melingkari tubuhku yang lemah.
            Apa yang harus aku lakukan? Jawaban apa yang harus ku beri? Aku tak bisa menatap raut sedih seperti ini. Aku tak ingin memupuskan harapan mereka. Mugkinkah aku lebih dibutuhkan disini? Bagiku, inilah pengabdianku pada bangsa. Tak perlu tanda jasa, tak perlu pujian atau pun lencana.
“Ilmuku milik kalian dan kalian berhak memiliki apa yang aku miliki. Kalian adalah harapan ibu.” Lirihku gundah.
“Apakah Bu Lilis akan meninggalkan kami?”

Kisah ini ku dedikasikan untuk mereka-mereka yang berjuang tanpa pamrih.
Mengabdi pada yang mereka yakini